Kejahatan di dunia maya menjadi ancaman bagi pengguna internet. Namun siapakah di antara semua user yang paling rentan menjadi korban cyber crime?

Menurut survei yang dilakukan perusahaan keamanan Symantec di 24 negara pada awal tahun ini, kaum laki-laki adalah user yang paling potensial menjadi korban. Dari 20.000 responden yang diteliti, 72% korban cyber crime adalah laki-laki, sedang kaum wanita presentasenya masih di bawahnya yakni 65%.

Ada sejumlah alasan yang mendasari fakta ini. Menurut penjelasan dari Effendy Ibrahim selaku Internet Safety Advocate & Director, Asia, Consumer Business, Symantec, hal ini disebabkan karena laki-laki lebih lama menggunakan internet dibandingkan wanita.

"Di dunia maya, laki-laki banyak melakukan aktivitas yang 'rawan' seperti online gaming hingga mengakses konten porno," papar Effendy dalam acara Norton 2012 Press Launch di InterContinental Jakarta Midplaza Hotel, Kamis (22/9/2011).

Kejahatan cyber sendiri memakan korban yang luar biasa banyak yakni 1 juta korban setiap harinya atau 50.000 korban per jam. Angka ini jika dibandingkan dengan jumlah bayi yang dilahirkan tiap hari, jumlahnya 2 kali lipat lebih banyak.

Disampaikan lebih lanjut oleh Effendy, dalam kasus kejahatan cyber, malware dan virus komputer masih menjadi 'alat' yang paling banyak dipakai oleh pelaku kejahatan.

Selain menguak fakta bahwa laki-laki lebih rentan menjadi korban cyber crime, mereka yang berpotensi terhadap kejahatan jenis ini ialah mereka yang berusia di antara 18-32 tahun. Sayangnya dari responden yang diteliti oleh Norton, sebanyak 41% mengaku bahwa mereka sama sekali tidak memiliki software keamanan.

Labels:

Geliat program jahat di perangkat genggam dinilai sama saja dengan yang beraksi di komputer. Mereka tak cuma bersifat merusak, namun juga berupaya mengeruk kantong si pemilik gadget.

Demikian diutarakan Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocate & Director, Asia, Consumer Business, Symantec, dalam ajang diskusi 'How Secure Is Your Android Phone' yang digelar di Gedung Aldevco Octagon, Rabu, (21/9/2011) malam.

"Selain yang sifatnya merusak sistem di ponsel pengguna, mereka (pelaku-red.) juga melakukan hal sama dengan di PC, coba mengambil keuntungan secara finansial ," tukasnya.

Hal ini memungkinkan saja terjadi dengan disuntikkan sebuah program jahat (malware) yang menyusup ke ponsel pengguna tanpa diketahui.

"Caranya bisa bermacam-macam, hal yang sederhana adalah dengan memaksa korban untuk mendaftar ke layanan SMS premium," lanjut Effendy.

Khusus tipe ponsel, perangkat Android menjadi salah satu yang paling disoroti. Pasalnya, perkembangan dari ponsel dengan sistem operasi 'robot hihau' ini tengah tumbuh pesat di kalangan pengguna.

"Malware (program jahat-red.) di Android jumlahnya sekitar 200-an. Masih kecil memang, tapi pertumbuhannya pesat," kata Effendy.

Bisa dibilang, popularitas Android yang semakin tinggi turut berperan dalam menarik animo penjahat cyber untuk membuat dan menyebarkan program jahat. Namun kini tinggal bagaimana persiapan dari pengguna untuk menghalau aksi usil tersebut.

"Intinya pakai aplikasi keamanan gratisan lebih baik dibandingkan tidak menggunakan aplikasi keamanan apapun," pungkas Effendy.

Symantec sendiri sejatinya telah memiliki aplikasi keamanan yang diberi nama Norton Mobile Security. Ada 4 fitur utama dari aplikasi ini, yaitu anti pencurian, anti malware, call & SMS blocking, serta web protection.

Aplikasi tersebut tentunya berbayar, namun jika ingin yang gratisan ada versi lainnya yang bernama Norton Mobile Security. Hanya saja ada 2 fitur yang dihilangkan, yakni tanpa call & SMS blocking serta web protection.

Labels:

Penetrasi pengguna ponsel yang melesat dengan cepat, membuat sistem keamanan pada gadget ini mutlak dibutuhkan. Sejumlah vendor antivirus pun sudah mulai memperhatikan hal ini.

Pada ajang diskusi 'How Secure Is Your Android Phone' yang digelar di Gedung Aldevco Octagon, Rabu, (21/9/2011) malam, Jason Mok, Consumer Sales Manager dari Symantec memaparkan beberapa alasan mengapa ponsel perlu ekstra keamanan.

"Saat ini pengguna yang menggunkan ponsel untuk browsing dan mengakses Facebook sudah lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan komputer," ujar Jason kepada peserta yang menghadiri diskusi.

Jason juga mengklaim bahwa jumlah malware yang menyerang ponsel terus meningkat, khususnya untuk ponsel berbasis Android yang jumlah penggunanya terus meningkat pesat.

"Untuk itulah Norton merilis Mobile Security yang memiliki beberapa fitur keamanan seperti antiphising, antitheft dan lainnya," pungkas Jason.

Selain Jason, diskusi How Secure Is Your Android Phone? juga diramaikan oleh Lucky Sebastian dari komunitas id-Android, dan Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocate & Director, Asia, Consumer Business, Symantec.

Ingin tahu lebih lanjut ancaman apa saja yang berada di depan pengguna Android? Simak hasil diskusi How Secure Is Your Android Phone di detikINET.

Labels: