Kabel Fiber Optik (FO) di jalur Handil - Loa Janan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dilaporkan terputus. Akibatnya, layanan telekomunikasi baik voice dan data dari sejumlah operator selular mengalami gangguan.

"Ya, ada kabel fiber optik di jalur Handil ke Loa Janan putus hari ini sekitar pukul 10.30 WITA, akibatnya ada gangguan layanan telekomunikasi pelanggan kita," kata Head Of Region Indosat Kalimantan, Sulawesi dan Papua, Teguh Prihantoro ketika dihubungi detikINET, Kamis (22/9/2011).

Sejumlah pelanggan Indosat di kedua kota itu pun kena getahnya. Misalnya untuk BlackBerry, posisi sinyal 'GSM' membuat handset BlackBerry tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya.

Kondisi itu juga dialami sendiri oleh detikINET. Di layar handset besutan Research In Motion (RIM) itu, posisi sinyal tertera 'GSM' mulai terjadi sekitar pukul 10.30 WITA.

Saat digeser ke koneksi 3G, yang muncul tertulis 'SOS'. Saat digunakan untuk menelepon dengan menggunakan handset lain, baik ke sesama Indosat maupun ke operator lain pun, tertulis 'Connection Failed' meski sinyal full di layar indikator.

Meski begitu, Teguh menyebutkan kabel FO yang terputus sebenarnya adalah milik Telkom. Namun back up kabel FO milik Indosat ikut terkena dampaknya.

"Dalam layanan telekomunikasi itu, biasa kabel FO diback-up Indosat. Maupun sebaliknya," ujar Teguh.

"Hanya saja kita masih mencari tahu, apakah karena pekerjaan umum (PU) atau gangguan alam yang menyebabkan putusnya kabel FO itu," jelasnya.

Proses pengerjaan memakan waktu sekitar 3 jam sejak terputusnya kabel FO, atau sudah diselesaikan sekitar pukul 13.00 WITA. Dan harusnya, pelanggan Indosat sudah dapat dengan lancar berkomunikasi.

"Recovery sudah selesai. Perlahan komunikasi sudah lancar kembali," terang Teguh.

Kejadian putusnya kabel fiber optik di Kalimantan bukan kali ini saja terjadi. Dua hari lalu, kejadian serupa sempat terjadi di jalur Balikpapan-Samarinda. Dimana penyebabnya lantaran jadi korban kegiatan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Labels:

Di Indonesia diperkirakan ada 60 juta rumah tangga (house hold) yang menaungi 240 juta penduduknya. Nah, untuk memenuhi kebutuhan akses internet broadband mereka, 30% di antaranya ditargetkan datang dari infrastruktur jaringan broadband wireless access (BWA) seperti Wimax dan LTE seluler.

Demikian proyeksi yang disampaikan Sylvia Soemarlin, CEO Xirca Dama Persada, terkait rencana investasi dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) hingga 2014 mendatang.

Xirca yang tengah membesut chipset untuk Wimax 16d, 16e, LTE serta customer premise equipment (CPE) dan base station bersama Huawei, mengaku telah siap memproduksi CPE sebanyak satu juta unit untuk lima operator. Ketersediaan perangkat itu pun dinilainya masih kurang.

"Untuk mencapai target 30% broadband, dalam satu tahun tidak cukup satu juta saja. Perlu sekitar 3-4 juta. Pasar ini harus diisi dua per tiga lagi dari yang lain," paparnya di sela Indonesia Broadband Economy Forum, di Hotel Kempinsky, Jakarta, Rabu (21/9/2011).

Tingginya kebutuhan perangkat untuk BWA, Sylvia menilai, kondisi ini merupakan peluang bagus untuk industri manufaktur. "Namun jika Menteri (Kominfo) belum mengeluarkan aturan tertulis tentang teknologi netral, operator tak akan beli perangkatnya," sesal dia.

Selain menyediakan perangkat CPE dengan range harga mulai dari US$ 80, Xirca juga memproduksi 5.000 base station bersama Huawei dengan harga per unit US$ 30 ribu. Sylvia menjelaskan, harga per CPE untuk Wimax 16e itu masih mahal karena belum diproduksi secara massal.

"Saat ini kami cuma punya satu line produksi untuk 5.000 base station per tahun. Itu pun masih di Malaysia. Namun perlahan mulai kami pindahkan ke Indonesia. Kalau mau penuhi untuk semua operator, kami perlu membangun empat line," pungkasnya.

Labels: